-->
1

Daerah

Iklan

Mi6: Caleg Muda Harus Berani Lawan Supremasi Lembaga Survey

Portalindonesia.co
4/01/2019, 13:11 WIB Last Updated 2019-04-02T05:47:03Z
Direktur Mi6, Bambang Mei Finareanto (depan laptop) dan Sekertaris Mi6, Lalu Athari Fathullah. (Foto: Aca/Portalindonesia.co)


MATARAM, Portalindonesia.co - Mi6 menduga keberadaan Lembaga Survey Politik berkontribusi menurunkan kualitas demokrasi dalam Pemilu Legislatif 2019. Hal ini dipicu oleh sejumlah release media hasil-hasil survey yang dipublikasi ke publik yang terkesan tidak menghitung kekuatan potensi caleg muda potensial dalam mengagregasi kekuatan pemilih yang sudah dipenetrasi.

Nuansa subyektifitas Lembaga Survey Politik yang cenderung tidak melakukan pemetaan/mapping secara menyeluruh justru menghasilkan kesimpulan akhir yang tidak mencerminkan kondisi yang sebenarny.

Kuat dugaan Lembaga Survey politik memainkan taktik penggiringan opini untuk kliennya, tanpa melihat realitas perubahan persepsi politik rakyat di tingkat basis akibat munculnya caleg muda/caleg pemula yang menjadi idola rakyat di setiap dapil.

Adanya Supremasi ini harus dilawan dan didelegitimasi oleh bersatunya caleg muda dengan cara memperkuat dan memperluas basis dukungan rakyat untuk membantah argumentasi Lembaga Survey Politik. Hal ini sekaligus sebagai upaya melakukan early warning bahwa apa yang telah dilakukan oleh Lembaga Survey tidak menjadi satu-satunya sumber legitimasi kemenangan.

Jika fakta-fakta yang telah diungkap oleh Lembaga Survey bisa dilawan dan diatasi dengan taktik politik yang cerdik, maka hal ini tentu akan menyemangati atau spirit bagi caleg muda untuk memperluas jaringan pemilihnya.

Menurut Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH, keberadaan Lembaga Survey Politik yang kurang presisi dalam menyampaikan kajian dan hasil survey-nya, khususnya dalam hasil-hasil  Pemilihan Legislatif  2019 justru berpotensi menurunkan kualitas demokrasi karena informasi yang dipublish terkesan tidak sesuai dengan fakta di lapangan .

"Mi6 mendapatkan sejumlah informasi top secret lapangan bahwa Pileg 2019 di NTB berbeda dengan Pileg 2014, di mana caleg muda /caleg pendatang baru/ makin agresif dengan beragam taktik dalam meraih dukungan masyarakat. Mereka ini bergerak ibarat operasi kladestein, senyap tapi masif," katanya, Minggu (31/3/2019).

Didu, panggilan akrab Bambang Mei F, mengatakan gerakan senyap merayap caleg pemula di basis ini kerap luput dari analisis hasil lembaga survey, karena beragamnya strategi caleg muda dalam mengamankan basis-basis pemilih loyalnya.

"Kesan subyektifitas Lembaga Survey tentu akan mempengaruhi kredibilitasnya di mata rakyat, jika hasil survey nya tidak akurat," tegas Did.

Selain itu, kata Didu, keberadaan lembaga survey politik berpotensi mendemoralisasi semangat dan spirit caleg muda yang tidak konfiden /inferior dengan dominasi yang diduga melakukan buzzer penggiringan opini secara sepihak. Bisa jadi, tidak bergeraknya dan tidak agresifnya sejumlah caleg muda di dapil pemilihannya, selain faktor internal, tidak tertutup kemungkinan mentalnya sudah down duluan akibat publikasi lembaga survey yang seolah-olah memperkuat elektabilitas calon  tertentu.

"Hal ini kemudian dipandang menutup harapan bagi para caleg. Akibatnya caleg bisa jadi sulit move on menjadi tidak termotivasi di dapilnya," ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Mi6, Lalu Athari Fathullah yang juga Caleg DPRD NTB Dapil 8 Lombok Tengah No Urut 2 Dari Partai PERINDO tidak pernah mau tahu dan menggubris Lembaga Survey Politik terkait pengumuman hasil caleg yang memiliki elektabilitas yang kuat.

"Saya bersama caleg-caleg muda partai lain akan melawan supremasi dan membuyarkan prediksi Lembaga Survey tersebut dengan taktik dan strategi lain," ujar Athar.

Athar menilai bahwa politik itu unpredictable dan selalu bergerak dinamis. Menjudgment hasil konstestasi Pileg melalui survey tidak boleh sepenuhnya dipercayai, karena ada faktor subyektifitas. Dan rakyat sudah tahu juga kalau lembaga survey itu tidak sepenuhnya independen.

"Hasil itu tidak bisa tertukar oleh orang yang tidak pernah turun ke basis dan hanya mengandalkan permainan persepsi semata. Saya tetap rajin turun ke basis, meski tanpa harus memakai jasa dan arahan lembaga survey. Saya nggak mampu bayar, mending biaya itu untuk mengentertain rakyat didapil," tukas Athar.

Athar memprediksi Pileg 2019 akan makin banyak caleg muda yang melenggang di parlemen, karena rakyat menginginkan wakilnya dari figur yang lebih merakyat dan tidak diragukan track record-nya. (Aca)
Komentar

Tampilkan

Terkini